Tren Quiet Quitting: Apakah Ini Gaya Hidup Baru yang Sehat?

Table of Contents

Ketika Hidup Terasa Hanya Tentang Pekerjaan

Beberapa tahun terakhir, istilah quiet quitting semakin sering muncul di media sosial. Awalnya mengira istilah ini berarti seseorang benar-benar berhenti bekerja. Ternyata maknanya berbeda.

Sebagai ibu yang pernah mencoba mengerjakan banyak hal sekaligus dalam satu hari, mulai dari pekerjaan, mengurus rumah, hingga menemani anak bermain, ada masa ketika tubuh terasa lelah tetapi tetap memaksa diri untuk terus produktif.

Bangun pagi sudah memikirkan pekerjaan. Malam hari masih membuka pesan dan email. Bahkan saat bermain bersama anak, pikiran tetap sibuk memikirkan tugas yang belum selesai.

Saat itulah mulai memahami kenapa tren quiet quitting banyak dibicarakan.

Apa Itu Quiet Quitting?

Quiet quitting bukan berarti resign dari pekerjaan.

Istilah ini lebih mengarah pada keputusan untuk bekerja sesuai tanggung jawab yang memang menjadi bagian pekerjaan, tanpa terus-menerus memberikan tenaga ekstra yang mengorbankan kesehatan, waktu pribadi, atau keluarga.

Sederhananya, seseorang tetap bekerja dengan baik, tetapi tidak lagi menjadikan pekerjaan sebagai pusat seluruh hidupnya.

Kenapa Banyak Orang Tertarik?

Setelah pandemi dan perubahan pola kerja, banyak orang mulai menyadari pentingnya keseimbangan hidup.

Tidak sedikit yang merasa kelelahan karena terus mengejar produktivitas tanpa batas.

Beberapa alasan tren quiet quitting menjadi populer antara lain:

  • ingin menjaga kesehatan mental
  • mengurangi risiko burnout
  • memiliki lebih banyak waktu bersama keluarga
  • menjaga batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi
  • meningkatkan kualitas istirahat

Bagi orang tua, terutama yang memiliki anak kecil, alasan-alasan tersebut terasa sangat relevan.

Pengalaman yang Membuka Mata

Ada masa ketika setiap waktu luang terasa harus diisi dengan sesuatu yang produktif. Jika sedang tidak bekerja, muncul rasa bersalah.

Namun setelah mulai memberi ruang untuk beristirahat tanpa rasa bersalah, banyak hal berubah. Waktu bersama anak menjadi lebih berkualitas. Pikiran terasa lebih tenang. Bahkan pekerjaan justru bisa diselesaikan dengan lebih fokus.

Ternyata produktivitas tidak selalu berarti bekerja lebih lama.

Apakah Quiet Quitting Selalu Baik?

Tidak selalu.

Jika diartikan sebagai kehilangan motivasi atau bekerja asal-asalan, tentu hal itu bukan sesuatu yang positif.

Yang lebih sehat adalah mengambil esensi dari quiet quitting, yaitu menetapkan batas yang jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Cara Menerapkan Versi Sehat dari Quiet Quitting

Beberapa hal sederhana yang bisa dicoba:

  • tentukan jam kerja yang jelas
  • hindari membalas pesan kerja saat waktu keluarga
  • prioritaskan tugas yang benar-benar penting
  • beri waktu untuk istirahat
  • belajar mengatakan tidak pada beban yang berlebihan
  • luangkan waktu untuk hobi dan keluarga

Jadi, Apakah Quiet Quitting Gaya Hidup yang Sehat?

Menurut banyak orang yang mulai menerapkannya, jawabannya bisa iya jika dilakukan dengan benar.

Quiet quitting bukan tentang bekerja lebih sedikit, melainkan bekerja dengan batas yang sehat. Sebagai ibu muda, pelajaran terpentingnya adalah memahami bahwa hidup bukan hanya tentang menyelesaikan daftar tugas. Ada keluarga, kesehatan, dan kebahagiaan yang juga layak mendapatkan perhatian yang sama besarnya.

Post a Comment